Beras Merah Jatiluwih

Desa Jatiluwih merupakan kawasan wisata dimana areal Subak Jatiluwih merupakan daerah kunjungan wisata. Subak Jatiluwih memiliki bentang alam dalam bentuk lanskap persawahan terasiring yang indah dan menjadi salah satu icon wisata budaya di Bali. Untuk luas subak basah (sawah) sekitar 303 hektar, sedangkan luas subak abian (kering) seluas 514 hektar.

Secara administratif Desa Jatiluwih merupakan satu desa dari 18 desa yang masuk wilayah Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Luas Desa Jatiluwih sekitar 2.233 hektar dengan topografi wilayah merupakan dataran tinggi dengan kontur wilayah perbukitan, berada di ketinggian antara 500-1500 meter diatas permukaan laut dengan suhu harian rata-rata 28° hingga 32° Celcius. Untuk curah hujan rata-rata tahunan 2500 mm. Desa Jatiluwih berjarak kurang lebih 47 km dari kota propinsi dan 26 km dari Kabupaten Tabanan. Adapun batas-batas wilayah Desa Jatiluwih adalah sebelah Utara adalah Kawasan Hutan, sebelah Timur Desa Senganan, sebelah Selatan Desa Babahan dan sebelah Barat Desa Wangaya Gede.

Tata guna lahan di Desa Jatiluwih terluas adalah untuk peruntukan hutan yaitu 1.118,28 Ha atau mencapai 50,08 persen dari seluruh luas wilayah, disusul perkebunan rakyat 513,86 Ha atau 23,01 persen dari keseluruan luas wilayah, sedang peruntukan terkecil adalah lahan pemukiman dan pemakaman dengan luas masing 24 Ha dan 0,35 Ha atau tidak lebih dari 1,5 persen dari keseluruan luas wilayah.

Padi Beras Merah Jatiluwih dikenal dengan nama cendana Jatiluwih (Oryza sativa var. Barak) yang merupakan padi lokal organik yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi dengan nilai kandungan gizi yang tinggi. Berdasarkan penelitian dari Didi Suardi (2004) menunjukkan bahwa ekstrak larutan beras merah secara umum mengandung protein, asam lemak tidak jenuh, beta-sterol, camsterol, stigmasterol, isoflavones, saponin, Zn dan Se, lovastrin, dan mevinolin-HMG-CoA. Unsur terakhir adalah reduktase inhibitor yang dapat mengurangi sintesis kolesterol di hati (Anonim, 2005). Menurut Departemen Kesehatan RI (1995) beras merah tumbuk mengandung protein 7,3%, besi 4,2%, dan vitamin B1 0,34%.

Deskripsi Beras Merah
Nama Indonesia : Padi Beras Merah
Nama Latin : Oryza nivara
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Oryza
Spesies : Oryza nivara

Dalam satu tahun biasanya petani di Jatiluwih menanam dua kali, yaitu pada awal tahun menanam padi beras merah dan pertengahan tahun menanam padi beras putih yang secara serentak di tanam oleh petani. Aturan ini sudah menjadi kewajiban yang harus dipatuhi dan sudah tertuang dalam aturan adat subak atau awig-awig, bagi yang melanggar bisa diberikan sanksi adat.

Padi beras merah Jatiluwih bisa diolah menjadi beberapa produk olahan seperti beras merah, teh, tepung bahkan kopi. Tapi kebanyakan diolah menjadi beras dan teh, karena peminatnya cukup banyak. Manfaat dari teh beras merah untuk memulihkan stamina, mengurangi tensi, melancarkan pencernaan, melarutkan lemak dalam usus, mencegah diare, menurunkan kolestrol dan kadar gula serta mencegah kanker usus. Banyak pengunjung atau wisatawan baik domestik maupun mancanegera senang menikmati minuman ini yang diproduksi dan disajikan secara tradisional. Selain itu, bisa digunakan sebagai souvenir yang ingin membawa buah tangan khas Jatiluwih.

3 thoughts on “Beras Merah Jatiluwih

    1. Suranadi Post author

      Hello Agastya,

      Maaf baru balas, untuk info ini kami belum tahu. mungkin bisa searching di google atau tempat lain, hehehe…

      salam,
      sandika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *